This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Politik. Tampilkan semua postingan

Mengenali Koentjaraningrat melalui Karyanya

Buku “Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan” karya Koentjaraningrat merupakan satu tulisan ilmiah yang mengkaji mental dan pembangunan menurut pandangan kebudayaan. Para ahli sosial mengartikan konsep kebudayaan dalam arti luas sebagai seluruh total dari pikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar. Dengan demikian, untuk menganalisa konsep kebudayaan tersebut dipecahkan ke dalam beberapa unsur. Unsur-unsur terbesar yang terjadi karena pecahan tahap pertama disebut “unsur-unsur kebudayaan yang universal”, dan merupakan unsur-unsur yang pasti bisa didapatkan di semua kebudayaan dunia, baik yang hidup dalam masyarakat pedesaan yang kecil terpencil maupun dalam masyarakat ke kotaan yang besar dan kompleks. Unsur-unsur universal tersebut yang merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia ini, diantaranya; sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, sistem teknologi dan peralatan.
Selanjutnya kebudayaan mempunyai paling sedikit tiga wujud; Pertama, sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan. Kedua, sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan yang berpola dari manusia dalam masyarakat. Ketiga, sebagai benda-benda hasil karya manusia. Akan tetapi, secara mendalam mengenai kebudayaan mentalitet kebudayaan secara tegas dalam buku ini dijelaskan bahwa berdasarkan kesimpulan dalam sebuah seminar di tahun 1970 menyatakan bahwa “sikap mental orang Indonesia umumnya belum siap untuk pembangunan”. Pernyataan ini jika dikaji lebih dalam dapat terlihat pada era sekarang ini, sehingga memerlukan suatu bayangan ke depan mengenai bentuk masyarakat seperti apakah yang ingin kita capai dengan pembangunan kita, dan hal ini yang belum dikonsepsikan oleh bangsa ini. Mental orang Indonesia sangat rapuh dalam menghadapi pembangunan dan setiap pola pembangunan yang ditawarkan sangat rentan dengan permasalahan. Keadaan masyarakat yang multikultural dengan berbagai konsep yang dimiliki dan berlainan satu dengan lainnya belum mampu mencapai satu kesepahaman tujuan. Dengan demikian penyempurnaan konsep demokrasi sangat dibutuhkan dalam membentuk mentalitas pembangunan dan tentunya dengan terus berupaya untuk menghasilkan karya yang lebih dapat dibanggakan.
Koentjaraningrat mencontohkannya dengan kondisi orang desa yang biasanya bekerja dalam sektor pertanian, dan mentalitet mereka adalah suatu mentalitet yang khas, yang disebut dengan mentalitet petani. Dan juga sebaliknya, dengan orang kota bekerja sebagai buruh, pedagang, usahawan, atau pegawai. Baik kelas buruh maupun kelas pedagang dan usahawan masih lemah, sehingga kehidupan kota dikuasai oleh kelas pegawai yang amat bergengsi, dan mentalitet penduduk kota didominasi oleh mentalitet pegawai sedangkan kota-kota di Jawa Tengah dan Timur didominasi oleh mentalitet priyayi, dimana mereka memiliki konsep bahwa manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dilingkungi oleh masyarakat dan alam semesta sekitarnya, dan di dalam sistem makrokosmos tersebut ia harus merasakan dirinya hanya sebagai suatu unsure kecil saja, yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang maha besar itu. Terutama dalam mentalitet priyayi telah berkembang dari pandangan hidup itu, suatu mentalitet yang terlampau banyak menggantungkan diri kepada nasib. Suatu mentalitet seperti itu tidak amat cocok dengan jiwa pembangunan.
Berbeda halnya dengan mentalitet petani Indonesia yang menilai tinggi konsep sama-rata-sama-rasa. Dalam rangka ide ini ada suatu konsep penting, ialah bahwa manusia itu di dunia ini pada hakikatnya tidak berdiri sendiri, bahwa ia selalu bisa mendapat bantuan dari sesamanya, terutama dari kaum kerabatnya dalam masa kesusahan. Lebih lanjut buku ini juga mengkaji perbedaan antara Kebudayaan Barat dan kebudayaan Timur. Dalam kenyataannya, Koentjaraningrat menggambarkan bahwa berbagai kebudayaan suku-bangsa di Indonesia (yang oleh Koentjaraningrat dapat digolongkan ke dalam “Kebudayaan Timur”) memang mementingkan upacara-upacara adat yang bersifat religi, penuh dengan unsur-unsur prelogis; mementingkan diskusi-diskusi tentang kebatinan; dan mementingkan mistik. Orang Indonesia memang tidak suka berusaha dengan sengaja, dengan gigih dan tekun, agar dapat mencapai suatu tujuan material, akan tetapi tidak berarti bahwa mereka tidak mementingkan materi. Sebaliknya, sukar juga untuk mengatakan bahwa Kebudayaan Barat tidak mementingkan kehidupan rohaniah.

Kritisnya buku ini menyajikan mentalitas pembangunan yang mencoba melihat perbedaan antara manusia yang hidup dalam lingkungan kebudayaan di Timur dan manusia yang hidup dalam lingkungan kebudayaan di Barat yang diperkaya dengan contoh-contoh yang terjadi di setiap penjuru dunia, dengan menggunakan konsep psikologi dari Hsu. Sehingga dapat memetakan dan memberikan pemahaman kepada pembaca secara jelas mengapa peradaban dan keilmuwan lebih cepat berkembang dan mengalami kemajuan berdasarkan kedua kebudayaan tersebut.